Kasih Setiawati
Keningku berkerut. Seorang pria menggunakan pakaian serba hitam dengan topi berwarna sama memandangku semejak aku turun dari busway. Apa ada yang salah denganku? Kenapa dia seakan terpaku melihatku? Aku berusaha tidak acuh terhadap ketidak nyamanan yang ia berikan. Untung hari masih siang, jalanan masih padat dan mudah mencari bantuan jika terjadi sesuatu. Aku hendak pergi ke kampus. Hari ini akan menjadi hari yang sangat melelahkan karena kelasku padat dari pagi hingga malam.
Tidak seperti hari biasanya, aku memilih berjalan kaki menyusuri daerah kampung untuk sampai ke kampusku. Biasa aku selalu menggunakan ojek namun sejak kapan aku selalu memilih untuk berjalan kaki saja. Hari ini sedikit mendung tapi tidaklah hujan. “Aku tidak suka cuaca ini,” gumamku dalam hati. Jalanan dari halte ke kampus cukup rusak sehingga sulit untuk menggunakan kendaraan. Haruslah sangat berhati2 apabila tidak mau celaka. “Aku benci jalanan ini,” gumamku lagi dalam hati. Aku bukan tipe orang yang suka mengeluh sebelumnya. Namun, entah sejak kapan pula aku jadi sangat membeci jalanan dan cuaca seperti ini. Sangat mengganggu hatiku.
Saat masuk kelas aku duduk di bangku paling belakang, tepat di pojok kanan. Spot favoritku dimana tidak akan ada orang yang duduki lagi selain aku. Ya, aku bukan anak rajin. Saat awal masuk semester ini sebetulnya aku sangat rajin mencatat dan bertanya pada dosen pengajar, namun aku sudah kehilangan minatku pada kuliah. Datang ke kampus hanya sekedar untuk melakukan rutinitas yang biasa kulakukan saja karena bosan mondar mandir tanpa arah tak tau kemana.
Aku tidak berteman dengan siapapun di kampus. Tidak penting juga bagiku. Mereka bahkan tidak berusaha untuk hanya memandang wajahku. Sikap mereka sangat dingin. Hanya satu orang di kampus ini yang kadang menyapaku dengan tersenyum tipis. Namanya Kirana dan dia juga satu angkatan denganku. Aku jarang memaparkan senyum padanya walau dia berusaha ramah kepadaku. Kirana adalah korban pengasingan teman-temannya. Kurang lebih sama denganku, bedanya anak2 kampus masih menganggap dia aneh, sedangkan aku dianggap tidak ada. Jahat rasanya bila dipikir-pikir. Mungkin dia hanya ingin berteman denganku secara ia memiliki posisi yang bisa dibilang cukup mirip denganku di kampus ini. Aku berniat berteman dengannya dan akan menyapanya saat bertemu nanti.
Kebetulan sekali aku melihatnya di depan kelas, duduk termenung sendiri. Aku mendatanginya berniat mengajak ngobrol dan basa basi. Ia terhentak kaget melihat kehadiranku yang mendadak. Tapi tak lama, ia tertawa kecil. Aku ikut tertawa dan kemudian memperkenalkan diri, “namaku Kasih Setiawati.” Namun dia menjawab bahwa dia sudah tau siapa aku. Aneh rasanya, aku bukan anak populer di kampus, tidak suka berbicara pada siapapun juga. Aku hiraukan perkataannya, lalu aku ajak dia sedikit ngobrol tentang hal-hal di kampus.
Cukup asik ternyata berbicara dengan Kirana. Banyak cerita yang kami tukarkan, mulai dari rute perjalanan halte bus ke kampus yang sangat sulit dilalui sampai ke cerita anak-anak kampus yang tidak begitu kami sukai. Tak terasa sudah satu jam kami ngobrol. Kirana bilang bahwa kelasnya akan segera dimulai. Aku melihat anak-anak kelasnya mulai masuk satu persatu ke dalam ruang kelas. Aku juga melihat mereka semua memandang Kirana dengan tatapan aneh. Kirana tau aku tidak suka dengan tatapan anak-anak kelasnya terhadap dia, namun ia menyuruhku untuk menghiraukannya saja. Aku berusaha tidak memusingkan dan nurut kepada Kirana, sampai seorang perempuan menghampirinya dan bertanya sesuatu yang cukup membuatku kaget. “Bicara dengan siapa kau? Sudah tidak waras?” Lalu ia tertawa pergi meninggalkan Kirana dan aku yang membatu.
“Maksudnya apa?” Aku tanya kepada Kirana. “Tidak usah ditanggapi, dia memang begitu orangnya.” Jawabnya. Aku menjawab perkataan Kirana dengan nada ketus “Memang aku ini tembus pandang? Aku mengerti aku tidak diperdulikan tapi sungguh dia sangat kurang ajar. Memotong perbincangan saja sudah cukup lancang, bagaimana bisa dia terang-terangan tidak menganggapku ada?”. Kali ini Kirana terlihat sangat bingung dengan geramanku. Dia bertanya kepadaku “kamu tidak tau?”. Aku bertanya apa maksud pertanyaannya masih dengan perasaan tidak suka. Kirana terlihat kaget dan segera membuka telepon genggamnya, lalu menunjukan aku sebuah artikel berita.
Sebulan lalu, seorang mahasiswi kampusku dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan besar saat hendak ke kampus. Kecelakaannya terjadi persis di jalan daerah kampung yang selalu kulewati setiap hari. Motor ojeknya tergelincir karena jalanan licin setelah hujan besar. Wanita itu dilaporkan terseret mengikuti motor karena bajunya tersangkut di bagian belakang motor sehingga seluruh tubuhnya cukup rusak dan tidak terselamatkan. Aku melihat nama gadis malang itu di artikel. Kasih Setiawati. Namaku.
Tidak seperti hari biasanya, aku memilih berjalan kaki menyusuri daerah kampung untuk sampai ke kampusku. Biasa aku selalu menggunakan ojek namun sejak kapan aku selalu memilih untuk berjalan kaki saja. Hari ini sedikit mendung tapi tidaklah hujan. “Aku tidak suka cuaca ini,” gumamku dalam hati. Jalanan dari halte ke kampus cukup rusak sehingga sulit untuk menggunakan kendaraan. Haruslah sangat berhati2 apabila tidak mau celaka. “Aku benci jalanan ini,” gumamku lagi dalam hati. Aku bukan tipe orang yang suka mengeluh sebelumnya. Namun, entah sejak kapan pula aku jadi sangat membeci jalanan dan cuaca seperti ini. Sangat mengganggu hatiku.
Saat masuk kelas aku duduk di bangku paling belakang, tepat di pojok kanan. Spot favoritku dimana tidak akan ada orang yang duduki lagi selain aku. Ya, aku bukan anak rajin. Saat awal masuk semester ini sebetulnya aku sangat rajin mencatat dan bertanya pada dosen pengajar, namun aku sudah kehilangan minatku pada kuliah. Datang ke kampus hanya sekedar untuk melakukan rutinitas yang biasa kulakukan saja karena bosan mondar mandir tanpa arah tak tau kemana.
Aku tidak berteman dengan siapapun di kampus. Tidak penting juga bagiku. Mereka bahkan tidak berusaha untuk hanya memandang wajahku. Sikap mereka sangat dingin. Hanya satu orang di kampus ini yang kadang menyapaku dengan tersenyum tipis. Namanya Kirana dan dia juga satu angkatan denganku. Aku jarang memaparkan senyum padanya walau dia berusaha ramah kepadaku. Kirana adalah korban pengasingan teman-temannya. Kurang lebih sama denganku, bedanya anak2 kampus masih menganggap dia aneh, sedangkan aku dianggap tidak ada. Jahat rasanya bila dipikir-pikir. Mungkin dia hanya ingin berteman denganku secara ia memiliki posisi yang bisa dibilang cukup mirip denganku di kampus ini. Aku berniat berteman dengannya dan akan menyapanya saat bertemu nanti.
Kebetulan sekali aku melihatnya di depan kelas, duduk termenung sendiri. Aku mendatanginya berniat mengajak ngobrol dan basa basi. Ia terhentak kaget melihat kehadiranku yang mendadak. Tapi tak lama, ia tertawa kecil. Aku ikut tertawa dan kemudian memperkenalkan diri, “namaku Kasih Setiawati.” Namun dia menjawab bahwa dia sudah tau siapa aku. Aneh rasanya, aku bukan anak populer di kampus, tidak suka berbicara pada siapapun juga. Aku hiraukan perkataannya, lalu aku ajak dia sedikit ngobrol tentang hal-hal di kampus.
Cukup asik ternyata berbicara dengan Kirana. Banyak cerita yang kami tukarkan, mulai dari rute perjalanan halte bus ke kampus yang sangat sulit dilalui sampai ke cerita anak-anak kampus yang tidak begitu kami sukai. Tak terasa sudah satu jam kami ngobrol. Kirana bilang bahwa kelasnya akan segera dimulai. Aku melihat anak-anak kelasnya mulai masuk satu persatu ke dalam ruang kelas. Aku juga melihat mereka semua memandang Kirana dengan tatapan aneh. Kirana tau aku tidak suka dengan tatapan anak-anak kelasnya terhadap dia, namun ia menyuruhku untuk menghiraukannya saja. Aku berusaha tidak memusingkan dan nurut kepada Kirana, sampai seorang perempuan menghampirinya dan bertanya sesuatu yang cukup membuatku kaget. “Bicara dengan siapa kau? Sudah tidak waras?” Lalu ia tertawa pergi meninggalkan Kirana dan aku yang membatu.
“Maksudnya apa?” Aku tanya kepada Kirana. “Tidak usah ditanggapi, dia memang begitu orangnya.” Jawabnya. Aku menjawab perkataan Kirana dengan nada ketus “Memang aku ini tembus pandang? Aku mengerti aku tidak diperdulikan tapi sungguh dia sangat kurang ajar. Memotong perbincangan saja sudah cukup lancang, bagaimana bisa dia terang-terangan tidak menganggapku ada?”. Kali ini Kirana terlihat sangat bingung dengan geramanku. Dia bertanya kepadaku “kamu tidak tau?”. Aku bertanya apa maksud pertanyaannya masih dengan perasaan tidak suka. Kirana terlihat kaget dan segera membuka telepon genggamnya, lalu menunjukan aku sebuah artikel berita.
Sebulan lalu, seorang mahasiswi kampusku dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan besar saat hendak ke kampus. Kecelakaannya terjadi persis di jalan daerah kampung yang selalu kulewati setiap hari. Motor ojeknya tergelincir karena jalanan licin setelah hujan besar. Wanita itu dilaporkan terseret mengikuti motor karena bajunya tersangkut di bagian belakang motor sehingga seluruh tubuhnya cukup rusak dan tidak terselamatkan. Aku melihat nama gadis malang itu di artikel. Kasih Setiawati. Namaku.
Hi good peeps! This is my third monologue. This one is also just a campus assignment just like the others. And as always, hope you enjoy reading it and have a great day ya'll! <3
BalasHapusWow horor juga kisah si Kasih Setiawati 😨
BalasHapusterima kasih sudah membaca!
Hapus