Aku dan Si Siluman Anjing
Banyak orang mempunyai hewan peliharaan favorit. “My spirit animal” mereka bilang. Cerita ini dimulai dari rasa cintaku dengan hewan peliharaan yang paling kusukai. Anjing. Setia, si teman baik manusia.
Aku tinggal di Bali. Daerah tempat tinggalku banyak dikelilingi anjing liar. Banyak rumah di sini yang memelihara anjing-anjing liar tersebut namun sayangnya, orang tuaku melarangku untuk memelihara hewan, terutama anjing. Entah apa saja alasannya, aku sudah kehilangan angka untuk dihitung. Kadang mereka bilang sulit dijaga dan kadang jawabannya yang paling sering adalah tidak baik memelihara hewan di rumah. Sering aku membujuk mereka, namun hasilnya nihil.
Pagi ini aku berangkat sekolah, kulihat ada sesuatu yg berbeda di rumah tetangga sebelahku. Seekor anjing dewasa berwarna hitam pekat. Aneh. Selama ini aku tak pernah melihat tetanggaku memelihara anjing dan hari ini ada anjing dewasa berukuran cukup besar yang muncul di sela-sela pagar rumahnya. Seingatku, tetanggaku merupakan orang daerah yang rajin mengkonsumsi daging dan darah anjing. Kupikir mungkin ini salah satu anjing korbannya. Aku berjalan ke arahnya, dia tampak liar, giginya runcing dan matanya melihatku tajam namun ia tidak mengonggong. Aku tidak takut. Aku percaya semua anjing dasarnya baik, tergantung bagaimana manusia memperlakukan mereka. Aku memberanikan diri mengulur tanganku untuk mengelus kepalanya dan memaparkan senyum ke wajahnya berharap ia mengerti bahwa aku ini bukan ancaman. Saat tanganku hampir menyentuh kepalanya, ia meringis membuka mulutnya lebar-lebar yang dipenuhi dengan taring dan kemudian dia menggigit lenganku dengan keras hingga aku bisa melihat tulang tanganku sendiri. Mata makhluk itu berubah merah dan mengalirkan darah, punuknya membesar dan aku mendengar tulangnya retak membentuk sesuatu yang besar. Aku berteriak sekuatnya namun tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku memejamkan mataku kuat-kuat.
Aku membuka mataku.
Pagi ini aku berangkat sekolah, kulihat ada sesuatu yg berbeda di rumah tetangga sebelahku. Seorang pria dewasa. Tubuhnya tinggi dan besar, kulitnya berwarna hitam pekat, tatapannya liar dan tajam menatapku. Aneh. Selama ini aku tak pernah melihatnya tinggal di rumah tetanggaku dan hari ini ada seorang pria asing muncul di sela-sela pagar rumahnya. Aku hendak menyapanya untuk bertanya, namun saat kuingat apa yang terjadi di mimpiku, aku mengurungkan niat. Tak berselera untuk beramah tamah dan kemudian melanjutkan langkahku ke sekolah. Aku merasakan tatapannya terus mengikutiku hingga ujung gang.
Sekolah berjalan seperti biasa dan berjalan normal seperti hari-hari lainnya. Segalanya berubah ketika aku berjalan kembali ke rumah, aku melihat ambulans dan polisi mengelilingi dan menyegel rumah tetangga sebelahku. Aku berlari ke arahnya dan menanyakan tetanggaku yang ikut mengerumuni tempat itu. Sebelum ia menjawab pertanyaanku, seorang petugas ambulans membawa jasad tetangga sebelahku yang tampak sangat mengerikan. Tubuhnya dipenuhi darah, wajahnya terkoyak tak berbentuk. Namun yang paling kuperhatikan dari jasadnya adalah, tangannya buntung tapi sisa tubuhnya yang lain utuh. Rupanya persis seperti apa yang kumimpikan tadi pagi. Semua tetanggaku berteriak histeris melihat jasad mengerikan itu, terkecuali aku yang hanya menatapnya datar tak berkutik. Aku merasakan ada yang memanggilku di kebun kosong seberang rumahku. Aku membalikan badan dan melihat anjing hitam pekat yang kulihat di mimpi itu. Ia meringis tersenyum kepadaku. Giginya dipenuhi taring dan darah membuatku bergidik ngeri seakan ia sedang memperingatkan alasan kenapa orang tuaku sejak awal tidak menyetujui akan ide memelihara anjing di rumah. Seketika itu juga, ia menghilang dan tak pernah muncul lagi.
Aku tinggal di Bali. Daerah tempat tinggalku banyak dikelilingi anjing liar. Banyak rumah di sini yang memelihara anjing-anjing liar tersebut namun sayangnya, orang tuaku melarangku untuk memelihara hewan, terutama anjing. Entah apa saja alasannya, aku sudah kehilangan angka untuk dihitung. Kadang mereka bilang sulit dijaga dan kadang jawabannya yang paling sering adalah tidak baik memelihara hewan di rumah. Sering aku membujuk mereka, namun hasilnya nihil.
Pagi ini aku berangkat sekolah, kulihat ada sesuatu yg berbeda di rumah tetangga sebelahku. Seekor anjing dewasa berwarna hitam pekat. Aneh. Selama ini aku tak pernah melihat tetanggaku memelihara anjing dan hari ini ada anjing dewasa berukuran cukup besar yang muncul di sela-sela pagar rumahnya. Seingatku, tetanggaku merupakan orang daerah yang rajin mengkonsumsi daging dan darah anjing. Kupikir mungkin ini salah satu anjing korbannya. Aku berjalan ke arahnya, dia tampak liar, giginya runcing dan matanya melihatku tajam namun ia tidak mengonggong. Aku tidak takut. Aku percaya semua anjing dasarnya baik, tergantung bagaimana manusia memperlakukan mereka. Aku memberanikan diri mengulur tanganku untuk mengelus kepalanya dan memaparkan senyum ke wajahnya berharap ia mengerti bahwa aku ini bukan ancaman. Saat tanganku hampir menyentuh kepalanya, ia meringis membuka mulutnya lebar-lebar yang dipenuhi dengan taring dan kemudian dia menggigit lenganku dengan keras hingga aku bisa melihat tulang tanganku sendiri. Mata makhluk itu berubah merah dan mengalirkan darah, punuknya membesar dan aku mendengar tulangnya retak membentuk sesuatu yang besar. Aku berteriak sekuatnya namun tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku memejamkan mataku kuat-kuat.
Aku membuka mataku.
Pagi ini aku berangkat sekolah, kulihat ada sesuatu yg berbeda di rumah tetangga sebelahku. Seorang pria dewasa. Tubuhnya tinggi dan besar, kulitnya berwarna hitam pekat, tatapannya liar dan tajam menatapku. Aneh. Selama ini aku tak pernah melihatnya tinggal di rumah tetanggaku dan hari ini ada seorang pria asing muncul di sela-sela pagar rumahnya. Aku hendak menyapanya untuk bertanya, namun saat kuingat apa yang terjadi di mimpiku, aku mengurungkan niat. Tak berselera untuk beramah tamah dan kemudian melanjutkan langkahku ke sekolah. Aku merasakan tatapannya terus mengikutiku hingga ujung gang.
Sekolah berjalan seperti biasa dan berjalan normal seperti hari-hari lainnya. Segalanya berubah ketika aku berjalan kembali ke rumah, aku melihat ambulans dan polisi mengelilingi dan menyegel rumah tetangga sebelahku. Aku berlari ke arahnya dan menanyakan tetanggaku yang ikut mengerumuni tempat itu. Sebelum ia menjawab pertanyaanku, seorang petugas ambulans membawa jasad tetangga sebelahku yang tampak sangat mengerikan. Tubuhnya dipenuhi darah, wajahnya terkoyak tak berbentuk. Namun yang paling kuperhatikan dari jasadnya adalah, tangannya buntung tapi sisa tubuhnya yang lain utuh. Rupanya persis seperti apa yang kumimpikan tadi pagi. Semua tetanggaku berteriak histeris melihat jasad mengerikan itu, terkecuali aku yang hanya menatapnya datar tak berkutik. Aku merasakan ada yang memanggilku di kebun kosong seberang rumahku. Aku membalikan badan dan melihat anjing hitam pekat yang kulihat di mimpi itu. Ia meringis tersenyum kepadaku. Giginya dipenuhi taring dan darah membuatku bergidik ngeri seakan ia sedang memperingatkan alasan kenapa orang tuaku sejak awal tidak menyetujui akan ide memelihara anjing di rumah. Seketika itu juga, ia menghilang dan tak pernah muncul lagi.
Hi guys, i just got the time to finally post my monologue to my blog.. i actually never post anything in here, but idk why i have this urge to post these three (Aku dan Si Siluman Anjing, Harga Diri, Kasih Setiawati). Hope nothing much but for you to enjoy my creativity, hehe. Have a great day ya'll! <3
BalasHapus