Harga Diri
Kata orang, sepasang kekasih mungkin merupakan jodoh semejak
kehidupan lalunya, atau mungkin juga musuh yang saling membenci sehingga mereka
bertemu lagi di kehidupan ini. Dalam kisahku, mungkin kami adalah musuh yang
sangat sukar berdamai hingga akhirnya harus berjodoh dengan cara yang seperti
ini.
Aku bertemu dengannya secara kebetulan. Klasik. Perkenalan
antar teman ke teman lainnya membuat ikatan karma kami bertemu. Berawal dari
sikap yang lemah lembut. Sangat memikat hati wanita manapun yang menemuinya. Ia
datang kepadaku berniat menjadikanku lebih dari sekedar teman. Saat itu, aku
merasa teramat spesial, dan ternyata memang betul. Sangatlah spesialnya aku,
hingga harus melalui ini semua.
Cinta, itulah alasanku ketika teman-teman dekat mencaciku.
“Jangan bodoh!” mereka bilang. Aku tidak bodoh, mungkin ini hanya sementara.
Aku cinta padanya, dan begitu pula dia. Mungkin waktu itu ia hanya sangat lelah
dan aku berada pada waktu yang salah. Pipi dan lenganku membiru dan terus
membengkak. Sakit sekali rasanya. Tapi masa kelam ini pasti berakhir, yakinku.
Aku bertekad untuk merubahnya, kataku kepada teman-temanku.
Memang salahku semua ini. Tidak seharusnya aku memaksakan
dia untuk menjadi seseorang yang kumau. Pertengkaran demi pertengkaran kami
lalui. Aku mulai kehilangan akal sehatku dan diriku sendiri. Aku jelas melihat
kepalan tangannya hendak menghantamku. Namun aku tidak pernah menghindar. Aku
merasa pantas diperlakukan seperti ini. Kudengar lubuk jiwaku terus berteriak
keras, “Pergilah sejauh mungkin darinya. Selamatkan dirimu.” Aku menghiraukannya begitu saja bagai angin
yang hanya lewat.
Pagi ini, aku mendapat tugas untuk menghadiri suatu seminar
yang akhirnya membuka batinku. Mereka bilang, “Pandanganmu terhadap dirimu
sendiri, itulah cerminanmu pula di mata orang lain. Jika kamu memandang dirimu
rendah, maka rendahlah kamu di mata orang lain.” Batinku terpukul mendengarnya.
Aku ingat saat itu, ketika ia bilang bahwa derajatku tidaklah lebih dari
binatang. Aku sangat sakit mendengar perkataannya, namun kuingat juga betapa
hangat pelukannya ketika ia meminta maaf. Ingatan-ingatan pahit itu terus
menikam jiwaku sepanjang seminar, dan seperti biasa aku tetap berusaha
mengelaknya dengan alasan cinta.
Pada saat akhir dari seminar, narasumber memberi kalimat
penutup yang membangunkanku dari mimpi buruk akan ingatan-ingatan itu. “Hidup
ini memiliki tiga unsur penting yaitu, bagaimana kamu hidup, bagaimana kamu
mencintai, dan bagaimana kamu mengikhlaskan sesuatu yang bukan ditakdirkan
untuk dirimu.” Aku menangis sangat deras. Merasa teramat bodoh dengan apa yang
selama ini aku lalui. Pukulan, tendangan, dan cacian demi cacian aku lalui dan
dengan semudah kata ‘maaf’ selalu membuatku luluh dan kembali patuh. Aku sadar
aku tidak serendah apa yang ia bilang. Aku sadar ikatan karma kami lebih baik
aku hentikan di kehidupan ini. Aku cinta padanya seberapa kejamnya ia padaku.
Dan karena alasan cinta, aku harus pula melepaskannya. Dalam proses
mencintainya, aku melupakan bagaimana cara untuk mencintai diriku sendiri.
Aku berlari ke apartmentnya. Ia menyambutku dengan pelukan
sampai aku menyampaikan maksud dari kedatanganku. Aku melihat ia mengepalkan
tangan untuk kesekian kalinya. Tangannya hendak melayang ke wajahku, namun kali
ini aku tidak lagi memejamkan mata dan menunggu pukulannya mengenaiku,
melainkan aku menghindarinya dan berjalan mundur. Aku katakan padanya bahwa,
selama ini ia telah memukulku sepuasnya, mencaciku sepuasnya. Keinginanku
hanyalah satu, aku ingin hubungan pertalian buruk ini kita sudahi saja baiknya.
Ia kembali berteriak mencaciku. Aku tidak lagi takut padanya. Aku maju dan
memeluknya berharap ia sedikit tenang. Namun, ia mendorongku hingga jatuh lalu
menarik kerah bajuku naik. Ia berkata bahwa aku adalah pembohong besar dan
menuduhku berselingkuh dengan laki-laki lain. Aku melepaskan tangannya dari
kerahku sekuat tenaga. Lalu, aku membalikan badan dan berjalan keluar seraya
berkata bahwa tidak perlu aku jelaskan padanya lagi kenapa aku pergi dan
setelah aku keluar dari tempat ini, hubungan kami sudah selesai. Aku mendengar
hentak kakinya yang berlari ke arahku. Sebilah pisau menghunus perutku dari
belakang berkali-kali tanpa henti. Aku merasakan seluruh darahku tumpah dan
tubuhku tersungkur kaku di lantainya yang dingin. Aku mengumpulkan seluruh
tenaga terakhirku untuk menatap matanya dalam-dalam. Kata terakhir yang
kuucapkan padanya bukanlah betapa aku mencitai atau membencinya. Aku membuka
mulutku dengan susah payah dan berkata, “Aku bebas”. Kemudian segala-galanya
menjadi putih.
Aku bebas.
Hi good peeps! This is my second monologue. Most people quiet like it better than the others and so do i :P i really hope you can enjoy reading it tho i don't think it's an enjoyable story hahaha! have a great day ya'll!
BalasHapus🤗🤗🤗🤗🤗
Hapus