Harga Diri (Monologue version)


Kata orang, sepasang kekasih adalah jodoh dari kehidupan lalunya, atau mungkin musuh yang saling membenci sehingga harus bertemu lagi di kehidupan ini. Dalam kisahku, mungkin kami adalah musuh yang sangat sukar berdamai sehingga harus berjodoh dengan cara yang seperti ini.

Aku bertemunya secara kebetulan. Klise. Perkenalan antar teman ke teman yang membuat ikatan karma kami bertemu. Ia datang kepadaku, hendak menjadikanku lebih dari sekedar teman. Saat itu, aku merasa teramat spesial. Dan memanglah betul. Sangatlah spesialnya aku sehingga harus melalui ini semua.

Apa kau tau? Aku tetap tidak menganggap cinta itu bodoh. Cinta itu memaafkan bukan? Ya kan? Aku selalu mengingat hal ini. Sekalipun rasa sakit ini pelan-pelan membunuh jiwaku melebihi kematian tubuh ini. Melebihi apa yang aku yakini sebagai batas rasa sabar dan apa yang masih bisa dianggap wajar.

Aku selalu memaafkannya. Atau lebih tepatnya kembali patuh saat mantra “maaf” yang ia punya terucap. Seakan lupa, bahwa ia baru saja menambah warna biru yang baru si atas kulit ini. Warna penuh siksa dan derita ini.

Pagi itu, pagi dimana aku sadar bahwa harga diri ini patut diperjuangkan. Pagi dimana lubuk terdalam jiwaku sudah berteriak tidak kuat lagi akan kesedihan ini. Aku memutuskan untuk menyudahi pertalian buruk ini dengannya.
Dan seperti yang kalian sudah tau. Segalanya berjalan jauh dari kata “mulus”. Ia mengambil pisau di atas meja dapurnya yang dingin, lalu menggunakan caranya sendiri dalam memutuskan pertalian kami.

Sampai sini, kalian pasti sudah bisa menebak tentang kematianku. Kalau kalian berpikir aku pasti sangat membencinya, jawabannya adalah tidak.
Karena betapa besar aku menbencinya atau bahkan mencintainya bukanlah hal yang penting lagi.
Tubuh ini memang sudah mati di tangannya. Tetapi dalam kematian, jiwa ini bebas.

Aku bebas.

(dipentaskan di Bentara Budaya Jakarta 29/06/18)

Komentar

Postingan Populer